Love is not blind
Ini pepatah bukan sembarang pepatah, ini pepatah datangnya dari nenek moyang kita, mau tau apa bunyinya?
"Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta"
"Dari mana datangnya lintah? dari mata turun ke hati"
"Dari mana datangnya cinta? dari mata turun ke hati"
Semua orang yang pernah jatuh cinta pasti tau pepatah ini kan? Alm. guru geografiku malah sering berkata seperti ini nih ketika melihat murid-muridnya mulai ngantuk mendengar ceramahnya:
"Kalau cinta sudah melekat, t*i kuda terasa cokelat"
Memang tidak nyambung sih dengan tema yang diajarkan bapak itu di depan kelas. Tapi perkataan itu ampuh sekali, membuat kami yang ngantuk jadi tertawa.
Cinta itu bisa datang kapan saja dan dimana saja. Antara laki-laki dan perempuan tentunya, bukan antara sesama jenis yang akhir-akhir ini sudah mulai diakui pernikahannya di beberapa negara barat sana. Saya tidak akan membahas macam-macam cinta, bagaimana rasanya jatuh cinta, dan lain-lain. Saya hanya akan membahas cinta beda usia yang memang saya alami saat ini.
Saya sering sekali mendapati wajah-wajah terkejut, tidak suka, atau komentar pedas mereke-mereka yang menyangka bahwa si perempuan (red-saya) pasti merebut suami orang. Bahkan dulu waktu kami masih berkenalan, ada saja tetangga di sekitar kos-an ku yang mengingatkan untuk hati-hati, bisa saja dia suami orang, sudah ada kasusnya kemarin di dekat kos-an ku juga. Aku hanya bisa tersenyum dan membalas kecurigaan kakak itu dengan ucapan "Tidak kok kak, abang itu masih bujangan kok". Mengapa aku bisa yakin begitu? Karena dia tinggal dekat rumah etek ku. Kami juga berkenalan di warung etek. Jadi aku tau banyak siapa calon suamiku waktu itu. Perkenalan kami pun hanya 6 bulan menuju pernikahan. Usiaku yang saat itu sudah mendekati 29 tahun, melihat kesungguhan dia untuk melamarku (orangtuaku di jambi, orangrua dia di lampung, sedangkan kami di batam), orang yang rajin ke masjid ketika tiba waktunya sholat, jadi tak ada alasan untuk menolaknya. Waktu itu pun tidak masalah bagiku jika usia kami terpaut 7 tahun karena memang sejak SMA aku bercita-cita ingin memiliki suami yang usianya minimal 5 tahun di atasku. Aku hanya tidak siap ketika jarak lamaran dan pernikahan hanya 1 bulan. Apalagi aku belum pernah berjumpa langsung dengan calon mertuaku waktu itu. Tak cukup rasanya 1 bulan mempersiapkan segala sesuatunya.
Suamiku seorang pekerja keras di masa mudanya, tapi kemudian sebuah kecelakaan membuat wajahnya nampak lebih tua dari usia dia sebenarnya. Aku malah disangka lebih muda dari usiaku sebenarnya. Maka wajar saja jika kemudian mereka berpikiran "miring" tentang kami berdua. Aku bukan materialistis seperti yang kalian duga. Memang berkeluarga butuh uang untuk menutupi kebutuhan hidup sehari-hari, tapi hidup dengan suamiku tidak serba "wah" seperti yang kalian sangka kok. Hidup kami serba pas-pasan, kadang meminjam kesana sini. Alhamdulillah seiring berjalannya waktu, rizki kami bertambah, sudah bisa menabung walau kadang terpakai juga uangnya ^_^.
Jadi, masih mau beranggapan yang bukan-bukan dengan cinta beda usia? Semua berpulang pada kalian semua.
Komentar
Posting Komentar