Sampai Kapan?
Bullying terjadi dimana-mana, tidak
hanya di sekolah, namun juga di lingkungan lain seperti RT, RW, atau desa. Menjadi
warga baru selalu mendapat bagian untuk dicurigai dan diselidiki, dicemooh atau
bahkan diejek. Tapi bagaimana jadinya jika warga baru tersebut malah dijadikan “musuh”
oleh seseorang dan juga banyak orang? Cerita ini masih sama seperti waktu itu,
saat saya menginjakkan kaki disini untuk pertama kalinya sebagai istri dari
suami saya.
Tapi mengapa? Apa salah saya?
Mengapa harus memusuhi saya dan mengajak banyak orang untuk ikuti memusuhi
saya? Sampai kapan mereka akan terus bercerita bahwa saya merebut milik orang
lain?
Mereka boleh saja berkata bahwa
dia lebih cantik daripada saya, tapi.. apakah semua itu hanya dapat diukur dari
fisik semata? Mereka boleh saja berkata bahwa saya hitam, tapi saya manis kok
:D. Apakah dia tidak suka saat mengetahui usia saya jauh lebih muda daripada
suami saya? Apakah dia akan terus mengatakan bahwa saya ini sok alim? Hmm..
kalaulah dia tau bahwa memakai hijab adalah wajib hukumnya bagi tiap muslimah.
Dia bahan tidak suka saat
mengetahui saya bertugas mendata warga sini untuk pilkada Desember besok.“Ngapain
sih harus dia yang jadi pantarlih? Kayak gak ada yang lain aja. Dia itu kan
warga baru, memangnya dia bisa apa?”. Kemarin siang dia meremehkan saya lagi ketika
saya menumbuk daun singkong di rumah seorang tetangga yang akan melaksanakan pesta
pernikahan, lalu dia mulai mengomeli saya ketika saya sedang mencari wadah
untuk daun singkong tumbuk. Kok sampai segitunya yaa??
“Janganlah kamu mengolok-olok
orang lain, karena bisa jadi orang yang kamu olok-olok tersebut lebih baik
daripada kamu”.
Komentar
Posting Komentar